Balato
Senjata Tradisional

Balato – Pedangnya Para Pemburu Kepala Dari Nias

Balato adalah salah satu jenis pedang tradisional yang berasal dari Nias. Saat ini Balato digunakan dengan Baluse (Tameng yang bentuknya menyerupai daun pisang) pada tarian tradisional daerah tersebut yang dikenal sebagai Faluaya atau Fataele (tarian perang). Menggunakan pakaian daerah dengan campuran kuning, merah dan hitam serta dilengkapi dengan mahkota para penari bergerak seperti hendak berperang. Balato digenggam ditangan kanan mereka serta Beluse ditangan kirinya dalam sikap pertahanan dari musuh.

Balato Senjata Mematikan Dari Nias

Hingga abad ke 18 pulau Nias merupakan tempat yang cukup menakutkan untuk dikunjungi oleh para pendatang. Hal tersebut dikarenakan tradisi mereka berburu kepala suku lain yang mereka yakini akan menjadi hamba sahaya mereka dikehidupan selanjutnya. Kebiasaan mereka mengukir batu hingga meletakkan tanduk babi didepan rumah mereka hingga saat itu masih menjadi misteri. Nias yang berasal dari kata Nihas berarti manusia percaya bahwa mereka merupakan keturuan langsung dari para dewa. Pada zaman dahulu dalam acara pernikahan atau pemakaman tidak jarang dilengkapi dengan seremoni pemotongan kepala. Kepala yang dipenggal tersebut bisa anak kecil, orang tua atau dari suku lain yang ditangkap. Mengetahui hal ini para pedagang dari daerah luar enggan memasuki pulau Nias.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Balato yang juga dikenal sebagai Baltoe, Balatu, Balatu Sebua, Ballatu, Foda, Gari Telegu, Klewang Buchok Berkait, Roso Sebua atau Telagoe merupakan salah satu senjata yang digunakan masyarakat Nias untuk berperang dan memenggal kepala dalam upacara adat. Oleh sebab itu pula senjata ini dilengkapi dengan ukiran kepala dewa kematian yang disebut Lasara. Kesatria yang akhirnya mendapatkan mandat dari Si’ulu atau pemimpin adat adalah para pemuda yang terlebih dahulu lulus dari ujian. Salah satu ujian yang perlu dilewati para calon prajurit ini adalah Fahombo atau Lompat Batu. Fahombo menandakan kedewasaan dan kemampuan pria mengambil tanggung jawab melindungi desa-nya.

Karakteristik Balato

Balato memiliki ukuran bervariasi, mulai dari 45 cm hingga 90 cm dari gangang hingga bilahnya.

Gagang

Balato merupakan senjata tradisional Nias dan Indonesia yang sangat unik. Gagangnya terkadang diukir dengan bentuk kepala atau mulut binatang. Namun ukiran pada gagang ini lebih sering menggunakan bentuk Lasara. Ukiran pada gagang ini pun berrvariasi, mulai dari yang biasa hingga ukiran-ukiran yang sangat kompleks. Selain itu sulit menemukan satu jenis ukiran gagang pada Balato yang mirip antara satu dan lainnya. Hal ini dikarenakan hampir semuanya sesuai dengan personal pemesannya. Semakin kompleks ukirannya menandakan semakin tinggi kedudukan pemiliknya. Bagian gangang senjata ini biasanya dibuat dari kayu, atau tanduk yang ferrule nya terkadang juga ditemukan yang dihiasi dengan kuningan.

Bilah

Bagian bilah Balato biasanya dibuat dari besi monokel yang ditempa. Desain dari bilah senjata ini dapat dibagi menjadi 3 bentuk yang umum seperti :

  1. Bilah yang bagian belakangnya lurus sedangkan bagian tajamnya cekung sedikit dari bagian depan hingga ke guard.
  2. Bilah yang bagian belakangnya agak mencembung dan bagian yang tajam melengkung sedikit seperti huruf S
  3. Serta Bilah yang agak mirip dengan Mandau

Sarung

Sarung senjata ini dibuat dari kayu yang diperkuat dengan cincin-cincin logam yang terkadang turut diukir. Namun kebanyakan dari sarung ini didesain cukup plain. Meski demikian desain sarung ini menjadi cukup unik karena biasanya dilengkapi dengan keranjang yang terbuat dari rotan. Keranjang ini berfungsi sebagai tempat menyimpan berbagai jimat. Tidak jarang keranjang ini juga dibuat dari gigi-gigi babi.

Lihat Juga : Piso Halasan Milik Suku Batak

Balato Salah Satu Senjata Tradisional Indonesia Yang Diburu Kolektor

Mencari artikel dan informasi tentang senjata ini dalam bahasa Indonesia cukup sulit. Padahal senjata tradisional ini sangat diminati dikalangan para kolektor internasional. Senjata asli yang merupakan rampasan perang atau dijual oleh penduduk asli yang berasal dari era sebelum perang dunia kedua sangat dicari. Harga senjata ini mulai dari jutaan hingga ratusan juta rupiah bahkan di pasar gelap. Serupa dengan Mandau Kalimantan yang asli, penyematan headhunter yang asli menjadi salah satu alasan mengapa senjata ini banyak dicari.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber : Wikipedia

2 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: