Kampak dari Museum Rote
Senjata Tradisional

Kampak Nusa Tenggara Timur, Senjata Favorit Museum Rote

Kampak atau yang kita kenal pula dengan Kapak adalah alat sekaligus senjata tajam yang juga merupakan senjata tradisional dari Nusa Tenggara Timur, senjata tradisional ini tidak difungsikan sebagai senjata melainkan sebagai alat yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk membantu mengurangi atau meringankan pekerjaan mereka.

Kampak Sebagai Alat Pemotong Kayu

Salah satu kegunaan alat ini ialah untuk memotong kayu, masyarakat banyak menggunakan kampak sebagai alat pemotong kayu tradisional, matanya yang tajam dan kuat membuat alat ini bisa dengan mudah untuk memotong batang kayu atau pohon yang besar. Dengan menggunakan alat ini juga bisa dengan mudah untuk memotong benda lainnya yang terbuat dari kayu yang tebal.

Pada zaman dahulu kegunaan alat sudah biasa digunakan sebagai alat pemotong kayu yang besar, namun tak jarang juga Kampak digunakan sebagai alat atau senjata perang tradisional yang digunakan oleh masyarakat untuk melawan musuh, terlebih di zaman perperangan khususnya zaman sejarah, senjata kapak mudah untuk di buat dan digunakan. Cara pengunaan alat ini, hanya di ayunkan dengan keras pada benda atau kayu yang ingin di potong.

lihat juga : Mengingat kembali senjata-senjata tradisional Indonesia

Bentuk Kampak

Kampak berbentuk seperti huruf T dan juga L, pasalnya saat ini banyak sekali variasi dari bentuk kapak. Matanya sendiri umumnya berbentuk seperti trapesium ataupun persegi. Kampak bermata dua, yang mana kayu yang digunakan sebagai pegangan senjata ini, akan di letakan ditengah-tengah. Sementara matanya memiliki 2 bagian yang tajam, dibagian kiri dan kanan, sehingga penggunaan alat ini bisa dengan membolak balik mata senjata ini saat memotong kayu, dan hal itu akan memudahkan pekerjaan.

Untuk kampak yang terlihat berbentuk seperti huruf L, biasanya benda tersebut hanya memiliki satu mata alat ini, sehingga tongkatnya berada di salah satu sisi alat ini saja. Panjangnya kurang lebih 80 cm dengan lebar matanya kurang lebih 10 hingga 20 cm. panjang matanya pun tidak lebih dari 17cm. Berat alat ini bervariasi, tergantung dari bahan yang digunakan,semakin kuat dan tebal besi yang digunakan sebagai matanya maka semakin berat pula masa kampak. Umumnya untuk alat ini yang digunakan sebagai alat pemotong kayu atau alat perkebunan, kurang lebih 2 hingga 3 kilogram.

Bahan Baku Kampak

Kampak biasanya terbuat dari kayu dan besi , yang terdiri dari bagian tangkai dan matanya. Matanya bisa terbuat dari besi maupun logam. Mata kampak tersebut di ikatkan atau di satukan dengan kayu yang digunakan sebagai tangkainya, dan menjadi tempat untuk memegang alat tersebut. Kayu yang digunakan sebagai tangkai kampak haruslah kayu yang kuat. Di zaman yang sudah modern ini, bahannya dibuat sebagus dan senyaman mungkin untuk digunakan, misalnya dengan tangkai kampak yang halus, sehingga sangat mudah untuk digunakan.

Akan tapi, pada zaman dahulu, pembuatan kampak sangat lah sederhana, bahkan bahan dasar kampak pada zaman dahulu, hanya terbuat dari kayu dan batu yang diasah dengan tajam untuk menjadi mata kampaknya, lalu diikatkan dengan tali yang terbuat dari akar kayu pada batang kayu yang kuat sebagai tangkainya.

Oleh karena itu,selain sebagai senjata tradisional, alat ini juga merupakan senjata tajam yang memiliki usia yang sangat tua, yakni sudah ada sejak zaman pra sejarah. Sehingga penggunaan kampak sangat multifungsi, mulai dari senjata perang, hingga pekakas perkebunan. Bagi masyarakt Nusa Tenggara Timur sendiri, alat ini banyak digunakan untuk membantu mereka berkebun.

Sejarah Kapak di Nusa Tenggara Timur

Keberadaan Kampak di Indonesia bagian timur sudah sangat lama, bahkan sudah sejak ratusan tahun yang lalu, hal ini dibuktikan dengan adanya 2 kampak yang tebuat dari perunggu yang disebut sebagai Kapak Upacara. Senjata tersebut di percaya oleh masyarakat setempat memiliki kekuatan spiritual dan dianggap sebagai benda pusaka yang sakral. Alat ini yang pertama di temukan di pulau Rote pada tahun 1875. Dan yang satunya di temukan di pulau Sabo pada tahun 1971. Saat ini kampak tersebut menjadi salah satu koleksi dari Museum NTT.

Teknik pembuatan kapak berbeda dengan pembuatan pisau atau pedang. Teknik ini berkembang sejak jaman Perundagian dan telah berkembang sejak 3000 SM di wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Teknik pembuatan kapak dikenal pada saat ini dengan teknik Cor. Secara umum Teknik pencetakan logam ada dua yaitu Bivalve dan Lilin (A Cire Perdue) Pada masa awal penggunaan perunggu yang merupakan kombinasi antara Timah dan Tembaga teknik Cor yang digunakan diasumsikan adalah teknik Bivalve. Teknik Bivalve menggunakan dua buah cetakan dengan rongga pada bagian tengahnya. Sedangkan teknik lilin biasanya digunakan untuk jenis cor-an logam yang lebih detail.

Penyebaran Kampak di Nusantara

Penggunaan logam oleh bangsa Indonesia menurut Wikipedia menjadi pertanda intensifnya perdagangan antara pulau-pulau Nusantara sejak zaman dahulu. Dengan perdagangan dapat disimpulkan bahwa terjadi berbagai distribusi seperti material, pengetahuan serta barang dagangan jadi (produk). Namun pendapat Wikipedia bahwa intensitas perdagangan yang terjadi pada awal-awal masehi masih perlu dilakukan berbagai penelitian. Karena yang diklaim sebagai kerajaan pertama di Indonesia baru muncul pada abad ke 10. Hal ini menjadi kontradiksi karena penggunaan perunggu di wilayah Indonesia dalam artikel yang sama sudah rama pada abad 500 SM.

Kapak yang ditemukan di Landu kepulauan Rote pada tahun 1875 dibuat dengan detail dan artistik. Namun benda ini tidak memenuhi prinsip ergonomi sebagai alat yang digunakan sehari-hari maupun senjata perang. Ukiran figur manusia, tulang ikan, spiral dan pola geometrisnya yang mirip dengan kepulauan Pasifik Selatan. Sehingga diasumsikan lebih banyak digunakan untuk kegiatan upacara.

Sumber : Wikipedia, Kompas, Meneketehe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: