Senjata Tradisional

Keris Yogyakarta

Keris Yogyakarta memiliki jumlah paling banyak di tanah air. Mengapa demikian? karena di wilayah ini banyak sekali para empu pembuat keris yang tinggal dan bermukim. Sehingga produktifitas keris tidak akan pernah berhenti karena ada generasi penerusnya. Selain itu, terdapat pula kompleks makam empu dari abad 16 M sampai sekarang.

Terdapat sebuah wilayah di sebelah barat Kota Yogyakarta bernama Ngent-enta, daerah Godean. Kota ini menjadi pusat para empu ketika membuat keris. Silsilah para empu di wilayah Godean juga lestari sampai sekarang. Sampai sekarang masih ada generasi penerus yang membuat keris sebagai benda kebudayaan dan senjata kebanggaan keraton. Tentu saja total keris yang dibuat oleh para empu Yogyakarta memiliki jumlah ribuan dan bahkan sampai jutaan.

Sebagian besar para empu mengabdi kepada kerajaan Mataram untuk membuat berbagai senjata yang dibutuhkan. Salah satu senjata yang selalu digunakan Sultan Hamengkubuwono I sampai X sebagai pusaka raja Mataram yaitu keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek. Keris ini dijadikan sebagai simbol pemimpin yang arif dan bijaksana dalam mengayomi rakyat agar selalu aman dan tenteram.

Namun, Keris ini bukanlah hasil buatan dari empu Mataram karena senjata khas ini pemberian dari raja Surakarta yaitu Pakubuwono III sebagai tanda perdamaian. Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek berbentuk lurus atau tidak memiliki luk dengan dapur jalak sangu tumpeng dan pamornya tidak diketahui. Sarung atau warangka keris terbuat dari kayu cendana wangi dengan pendok atau lapisan suasa berbentuk blewahan.

Ada juga senjata yang diberikan kepada putra mahkota kerajaan Mataram yaitu keris Kanjeng Kyai Ageng Jaka Piturun. Keris ini memiliki Luk dengan dapur jalak dinding berwarna hitam dan memiliki sarung atau warangka yang terbuat dari kayu timoho yang dihiasi batu permata. Keris ini pernah dimiliki Sunan Kalijogo dan dibuat di kerajaan Demak yang selanjutnya menjadi senjata andalan dari pangeran Mangkubumi ketika melawan Belanda.

Jenis senjata lainnya yang digunakan Sultan Hamengkubuwono I yaitu keris Kanjeng Kyai Birowo dengan luk 11. Sarung keris menggunakan Kayu Timoho dengan hiasan emas dan berlian. Kemudian keris ini diwariskan kepada putranya yaitu pangeran Hadikusuma dan akhirnya menjadi pusaka keraton hingga saat ini.

Keris Yogya

Sebagian besar keris Yogyakarta memiliki luk 11 dan 13 dengan ukuran panjang bilah sekitar 35cm, gonjo 7,5cm dan pesi 6,5cm sehingga panjang keseluruhan lebih dari 40cm. Bahan baku yang digunakan oleh para empu antara lain, unsur besi lebih dari 90% dan nikel 5% serta timah putih, titanium, timbal. Pamor keris menggunakan batu meteor yang terbagi dalam 3 jenis bahan utama, yaitu  meteorit yang mengandung besi dan nikel saat dipanaskan akan berwarna kelabu.

Siderit yang hanya mengandung besi dan jika dipanaskan akan membentuk warna hitam atau biasa disebut dengan pamor ireng atau hitam. Selain itu, ada juga jenis meteor yang bernama aerolit dan jika dipanaskan tidak begittu jelas terlihat yang biasa dinamakan pamor jalada.

Para empu memiliki keahlian dalam mengolah bentuk pamor dan disesuaikan dengan kebutuhan untuk memberikan corak alami ataupun buatan. Pamor yang dibentuk secara alami mengikuti lipatan secara natural dinamakan pamor Jwalana. Pamor alami diantaranya mega mendung, urap-urap, ngulit semangka dan lainnya.

Sedangkan pamor yang dibentuk sesuai dengan keingnan para empu dinamakan pamor Anukarta. Contoh pamor buatan antara lain, blarak ngirid, kenanga ginubah, wiji timun, beras tumpah, untu walang, udan mas dan lainnya. Umumnya keris yang berasal dari Yogyakarta diberi nama Kanjeng Kyai sebagai sebutan nama depannya sehingga memiliki kesan berwibawa dan menjadi benda pusaka yang memiliki kekuatan alam serta memberikan aura positif bagi pemiliknya.

Sumber : Keris Pusaka Jawa.

One Comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: