Sumpit Suku Kubu
Senjata Tradisional

Sumpit Suku Kubu

Sumpit suku Kubu atau Anak Dalam biasa digunakan sebagai alat untuk berburu. Alat ini dibuat dari kayu atau buluh bambu kecil seperti bambu jepang dengan anak panah dari bambu atau kayu juga yang diberi daun. Selain golok dan tombak sumpit sering dibawa dalam proses mengumpulkan makanan oleh suku ini.

Untuk mendapatkan visualisasi dari senjata ini cukup sulit. Gambar-gambar yang beredar di internet kebanyakan adalah Sipet dari suku Dayak Kalimantan, sedangkan gambar tentang suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang disebut suku Kubu ini juga belum saya dapati memegang senjata ini.

Pernahkah anda mendengar tentang suku Kubu? Suku yang berada di Pulau Sumatera ini dikenal juga dengan sebutan suku anak dalam. Ya, suku ini merupakan salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Tetapi mayoritas mereka hidup di Provinsi Jambi dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Lihat Juga : Keris Siginjai dari Kaki Gunung

Suku Kubu hingga kini masih tetap bertahan di hutan dan menjauhkan diri dari lingkungan luar. Dalam kegiatannya seperti berburu binatang di Hutan ataupun berperang mereka kerap menggunakan senjata Sumpit sebagai peralatan utama.

Hewan Yang Diburu Dengan Sumpit

Hewan buruannya disumpit menggunakan selongsong panjang yang diisi dengan anak panah beracun. Biasanya yang kerap menjadi buruan mereka di antaranya, Rusa, Kancil, Babi, Burung dan Kijang hutan. Binatang tersebut tak akan bisa kabur jauh apabila sudah terlukai oleh anak panah beracun dari Sumpit.

Kebiasaan berburu dan mengumpulkan makanan suku yang dikenal nomaden ini tidak merusak lingkungannya. Apa yang mereka kumpulkan untuk dimakan adalah yang mereka konsumsi dalam beberapa waktu saja sehingga alam tetap terjaga dengan baik.

Tak hanya di Jambi senjata Sumpit ini juga sudah banyak digunakan oleh suku adat lainnya yang ada di Indonesia, seperti suku Dayak, suku Papua dan Baduy. Dalam cara  penggunaanya pun sama seperti halnya Sumpit di daerah lainnya yaitu dengan cara ditiup.

Sumber: Adat Tradisional, Wikipedia, Dunia Kesenian.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: