Senjata Tradisional

Talawang Senjata Khas Kalimantan Timur

Tak akan habis rasanya jika kita membahas tentang kebudayaan Ibu Pertiwi. Dari Sabang sampai Merauke begitu kaya akan budaya dan tradisi. Seperti halnya Kalimantan banyak terdapat senjata tradisional, salah satunya adalah Senjata Talawang dari Kalimantan Timur.

Untuk melengkapi Mandau, masyarakat Suku Dayak menggunakan Talawang (Tameng atau Perisai) dalam berperang. Sama halnya dengan Mandau, Talawang merupakan benda budaya yang lahir dari kepercayaan masyarakat Dayak terhadap kekuatan magis. Selain itu, senjata tersebut juga memiliki sisi estetis yang ditunjukkan pada motif ukirannya.

Senjata ini biasanya terbuat dari kayu Ulin, kayu Besi, atau kayu Liat. Kayu-kayu tersebut dipilih karena memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan kayu jenis lain sehingga mampu menangkal serangan apapun.

Selain itu, ketiga jenis kayu ini juga terkenal dengan keringanan bobotnya. Kekuatan dan keringanan merupakan hal penting untuk sebuah Perisai karena dinilai mampu memberikan perlindungan yang maksimal kepada prajurit ketika berperang.

https://kukuhadhekurniawan.files.wordpress.com/2014/08/index-123.jpeg

Dari segi bentuk, senjata ini berbentuk persegi panjang yang dibuat meruncing pada bagian atas dan bawahnya. Panjang Talawang sekitar 1 sampai 2 m dengan lebar maksimal 50 cm. Sisi luar Talawang dihias dengan ukiran yang mencirikan kebudayaan Dayak kemudian bagian dalamnya diberi pegangan.

Lihat Juga: Mandau, Senjata Headhunter (Pemburu Kepala)

Keseluruhan bidang depan Talawang biasanya diukir berbentuk topeng (Hudo). Konon, ukiran pada Talawang ini memiliki daya magis yang mampu membangkitkan semangat hingga menjadikan kuat orang yang menyandangnya.

Ukirannya pada umumnya bermotifkan burung Tinggang, yaitu burung yang dianggap suci oleh Suku Dayak. Selain motif burung Tinggang, motif lain yang sering digunakan adalah ukiran Kamang.

Kamang merupakan perwujudan dari roh leluhur Suku Dayak. Motif Kamang digambarkan dengan seseorang yang sedang duduk menggunakan Cawat dan wajahnya berwarna merah. Walaupun setiap sub Suku Dayak mengenal kebudayaan Mandau dan Talawang, ternyata penggunaan warna dan motif ukirannya berbeda-beda.

Motif ukiran pada senjata ini juga yang kemudian banyak dijumpai sebagai desain interior rumah serta bagian-bagian arsitektur dari kriya seni ukir Dayak. Selain itu, Talawang ini bisa dijadikan sebagai simbol sosial, hal ini terlihat bahwa terdapat ukiran yang menggambarkan flora dan fauna. Ini menggambarkan bahwa kehidupan masyarkat Dayak sangat penting untuk menjalin hubungan yang harmonis antara alam dan manusia.

Ada dua jenis ukiran Talawang

Motif ukiran Talawang laki-laki

Untuk laki-laki digambarkan dengan motif gergasi atau raksasa yang bersifat tenang, kuat, dengan raut wajah menakutkan serta mata merah menyala dan dilengkapi taring runcing.

Motif semacam itu dipercaya dapat mempengaruhi orang agar semangatnya memudar dan merasakan ketakutan yang teramat sangat sebelum perang dimulai. Hebatnya lagi sensasi ini akan muncul hanya dengan memandang motifnya saja.

Motif ukiran Talawang perempuan

Untuk perempuan sama-sama digambar sosok gergasi, namun dibuat sedemikian rupa sampai mencitrakan unsur kelembutan, keramahan, serta persahabatan. Untuk motif ini, dominasi warna yang digunakan adalah warna-warna cerah seperti putih dan kuning yang dulunya diramu dari kunyit serta kapur sirih.

Dengan warna dan penggambaran gergasi yang penuh kelembutan tadi, tameng ini akan membuat siapa saja yang melihatnya muncul rasa iba dan kasihan sehingga nantinya tidak tega untuk menyakitinya.

Fungsi lain dari Talawang

Pada zaman dahulu tentu saja senjata ini digunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh. Tetapi seiring berjalannya waktu, senjata ini kini hanya berfungsi sebagai barang pusaka. Sedangkan senjata lama masih dipercaya dapat membentengi tempat tinggal pemiliknya dari bahaya.

Disisi lain senjata ini baru hanya sebagai benda pajangan yang bernilai estetis sekaligus ekonomis. Satu buah senjata yang bermotif indah ini bisa dihargai ratusan hingga jutaan rupiah. Harga tersebut sebanding dengan keindahan motif yang ditawarkan para pembuatnya. Selain itu, bersama dengan Mandau, Senjata tradisional ini juga masih digunakan sebagai properti dalam pertunjukan tari Suku Dayak, seperti tari Mandau dan tari Pepatay.

Sumber: Wikipedia, Saya Nusantara, Bombastis, Indonesia Kaya.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: