Senjata Tradisional

Ukaa & Mapegaa

Masyarakat Papua terkenal sangat memegang erat kebudayaannya. Keunikan budaya daerah ini memikat hati berbagai peneliti. Banyak yang meyakini suku Aborigin yang berada di Australia pun berasal dari tanah Papua ini. Mulai dari pakaian adat hingga tata cara kehidupan sehari-hari mereka masih kental dengan adat istiadat yang mereka jaga dan lestarikan.

Baca Juga : Piso Gaja Dompak

Banyak produk kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat Papua yang ditengarai memiliki lebih dari 250 suku. Meskipun tidak jarang kita mendengar terjadinya konflik dari 2 Provinsi yang terdapat disini, dalam kenyataannya mereka lebih sering hidup berdampingan dengan damai. Namun jika satu komitmen atau adat telah terlangkahi maka jangan heran berbagai alat dan senjata untuk mengkonfrontasi atau membela diri pun sudah dipastikan ikut berunding.

Suku Papua.jpg

Salah satu senjata yang terkenal dari Papua adalah Ukaa dan Mapegaa, Ukaa berarti busur dan Mapegaa adalah panah dalam bahasa Papua. Ukaa dan Mapegaa dari papua banyak perbedaan dari busur panah yang biasa. Diolah dari material alam yang ada didaerah Papua dan dibuat dengan efisiensi yang baik.

Baca Juga : Mengingat kembali senjata-senjata tradisional Nusantara

Busur atau Ukaa dibuat dari beberapa kayu seperti Kepopa, Obeigi Tedega, Botee dan Pudii. Sedangkan anak panah yang disebut Mapegaa dibuat dari berbagai jenis bambu dan kayu yang dalam bahasa daerahnya disebut Pudi, Tedega, Amoo, Nagi dan Toomo. Material pembuatan Ukaa dan Mapegaa sesuai dengan jenisnya:

  1. Bambu (toomo) yang diruncing tajam disebut Dogoyai/Bukaa
  2. Kayu Besi yang diukir disebut Kago-kago atau Tii
  3. Kayu bercabang yang dirapihkan disebut Tokopa atau Pugitoo

Salah satu keunikan dari Ukaa dan Mapegaa, mata panahnya diikat menggunakan anggrek atau dalam bahasa papuanya disebut Bitu. Selain itu pangkal panahnya tidak menggunakan penyeimbang atau Fletching sehingga butuh jam terbang tertentu untuk benar-benar menguasainya.

Ukaa dan Mapegaa sangat dekat dengan masyarakat Papua. Bukan karena sering dipergunakan ketika konflik antar suku, tetapi masih dipergunakan hingga saat ini untuk berburu dan alat yang wajib dibawa ketika melakukan perjalan jauh.

Asyraaf & Hadian

Sumber : Kabar Mapegaa, Tradisi Kita, Rip Blogspot

One Comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: