Black Soldier Fly,  Pengetahuan,  Pertanian

Black Soldier Fly – BSF

Black Soldier Fly – Lalat Tentara Hitam atau sering di singkat menjadi BSF merupakan lalat yang terkenal diberbagai belahan dunia untuk mengurai sampah organik. Lalat ini juga semakin banyak di budidayakan di Indonesia bukan hanya sebagai solusi untuk pengolahan sampah, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi diberbagai wilayah dengan menjual larvanya baik dalam kondisi fresh atau basah dan yang sudah dikeringkan.

Meskipun bagi orang awam ketika kita membicarakan soal lalat yang terbayang adalah sifat kotor dari binatang tersebut, hal ini tidak berlaku bagi BSF. Tidak seperti lalat rumah atau lalat hijau yang sering kita temui, lalat yang satu ini tidak bersifat patogen. Saat menjadi lalat, BSF tidak hinggap di tempat-tempat yang kotor, tidak makan, dan bertelur ditempat yang kering dan bersih. Sehingga saat menjadi lalat tidak membawa penyakit sebagaimana lalat yang lain.

Dalam kondisi yang sesuai, siklus hidup BSF hanya 45 hari. Tahap masing-masing masa hidup berbeda-berbeda di berbagai tempat, sehingga untuk pengembang biakannya perlu menyesuaikan lingkungan tempat pembudidayaannya.

Dalam kondisi alami, BSF sering kita temui ditempat-tempat yang kaya akan sumber nutrisi. Meskipun begitu, lalat ini tidak makan dan bertelur langsung ditempat sumber makanannya tersebut. Lalat dewasa yang sudah menetas dari pupa tidak dilengkapi dengan mulut untuk makan, tetapi hanya untuk minum. Telurnya biasanya diletakkan berjarak dari sumber nutrisi untuk makanan lalat ketika masih menjadi larva. Lalat ini akan meletakkan telurnya didekat sumber nutrisi yang memiliki bau tertentu, salah satunya bau asam hasil fermentasi.

  • Kingdom : Animalia
  • Divisi : Arthropoda
  • Class : Insecta
  • Ordo : Diptera
  • Familia : Stratiomyidae
  • Genus : Hermetia
  • Species : Hermetia Illucens

Black Soldier Fly dewasa atau yang sudah menjadi lalat mirip seperti Tawon, berwarna hitam dan berukuran hingga 16mm. Yang betina berukuran lebih besar dari pada yang jantan. Sayapnya transparan dan terlihat seperti pelangi di bawah sinar matahari. Ukuran kepalanya besar dan berantena 2 kali panjang kepalanya.

Lalat BSF betina bisa bertelur hingga 200 – 900an butir lalu mati setelah bertelur. Sedangkan lalat jantan yang lebih kecil biasanya mati setelah kawin. Telur-telur tersebut menetas setelah kurang lebih 4 hari dan menetaskan larva yang berukuran mikro. Larva ini dapat berkembang hingga sepanjang 2cm bahkan lebih, memiliki berat hingga lebih dari 0.22gr. Besar dan kecilnya larva hingga menjadi lalat juga tergantung nutrisi yang dimakannya saat menjadi larva. Usia larva ini juga bervariasi tergantung nutrisi dan suhu tempat tumbuhnya larva mulai dari 18 hingga lebih dari 1 bulan. Kemudian larva menghitam dan bermigrasi ketempat yang gelap dan kering pada tahap prepupa. Setelah menemukan tempat yang cocok, prepupa berubah menjadi pupa dan hibernasi kurang lebih 7 hari atau lebih tergantung suhu dan ketenangan tempat hibernasinya. Barulah setelah itu BSF berubah menjadi lalat untuk kawin. BSF menetas dari pupa mencari tempat yang kaya sinar UV atau tempat yang lebih terang dari pada tempat hibernasi nya.

Selain tidak membawa patogen dan vektor, BSF juga memiliki banyak manfaat bagi alam dan manusia. Larva yang rakus dan lalat yang tidak menjadi hama menjadi faktor kunci dari menariknya beternak BSF. Berikut beberapa hal yang dapat dihasilkan oleh BSF :

BSF sebagai Sumber Protein Alami

Larva BSF dapat mengandung protein hingga lebih 60% pada usia terbaiknya. Meskipun presentase proteinnya lebih rendah dibandingkan cacing, baik dari segi manfaat hingga siklus hidupnya yang lebih pendek, cukup memberikan perbedaan yang lebih signifikan dibandingkan dengan cacing.

Pengurai bahan organik

Salah satu yang menyebabkan BSF revelusioner dalam pengelolaan sampah dikalangan pencinta lingkungan adalah kemampuannya mengolah sampah sebanyak berat badannya hanya dalam hitungan hari. Hal ini telah dimanfaatkan pada banyak pengolahan sampah organik di negara-negara maju seperti Inggris, Finlandia hingga USA.

BSF menghasilkan kotoran yang bisa digunakan Sebagai Pupuk

Sampah organiknyang telah di makan oleh lalat ini kemudian di cerna menjadi protein dan kotoran. Kotoran BSF ini dikenal dengan BSF Frass atau Kasgot (Bekas Maggot). Kasgot ini mengandung NPK yang organik dan sangat baik untuk pemupukan tanaman.

Bangkai dan Cangkang Pupa nya menggandung Kitin.

BSF bukan hanya berguna saat menjadi larva saja. Tetapi bangkai dan cangkang pupa nya pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan membran untuk pemurnian air. Bahkan masih mengandung protein yang dapat jadi campuran pakan.

Dapat diolah menjadi minyak

Bukan hanya itu, larva BSF kering juga dapat diolah menjadi minyak yang tinggi lemak dan Lauric Acid. Jenis asam ini sering kita temui pada minyak yang berasal dari pengolahaan buah palem-paleman dan digunakan untuk kosmeti termasuk untuk mencegah jerawat. Selain itu minyak dari BSF juga dapat diubah menjadi Biodiesel.

Semoga dengan informasi dasar tentang BSF ini dapat memberikan kita sedikit pencerahan mengapa saat ini semakin banyak orang dan institusi, baik dalam skala rumahan hingga industri yang beternak lalat tentara hitam. Dan semakin banyak yang menjadi peternak ini secara nasional diharapkan dapat membantu lingkungan mengurangi sampah organik serta berbagai dampak negatifnya.

  • Asyraaf Ahmadi
  • Agung Ganthar Kusumanto
  • Hendi Kurniawan

Referensi

Wikipedia, Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Bali, SITH ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *