Budidaya Kayu
Kayu

Budidaya Kayu

Budidaya kayu merupakan investasi jangka panjang dan bisa memerlukan waktu sampai puluhan tahun agar bisa memetik hasilnya. Karena itu, diperlukan mental yang sangat sabar dalam usaha penanaman kayu dan memiliki mindset seorang investor dan bukan seperti petani. Jika kita melihat usaha budidaya perkayuan dengan kacamata petani, maka tidak akan bisa menjalankan usaha tersebut dengan maksimal karena merupakan dua hal yang berbeda, meskipun masih dalam lingkup yang sama.

Selain itu, modal yang dibutuhkan dalam usaha budidaya kayu juga lebih besar dari petani, namun akan memetik hasil yang signifikan. Hal ini karena kayu merupakan bahan baku langka sehingga harganya juga sangat mahal dan relatif stabil sehingga sangat cocok jika dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Usaha budidaya kayu membutuhkan tanah yang sangat luas dan sangat berbeda dengan bertani. Namun para pengusaha juga bisa melakukan penanaman tumbuhan palawija diantara pohon atau tanaman lainnya seperti rumput yang bisa digunakan untuk bahan pakan binatang ternak.

Budidaya Kayu di Indonesia

Indonesia memiliki tanah yang subur sehingga sangat cocok jika ingin menekuni usaha ini dan kebutuhan bahan baku ini terus meningkat seiring dengan peningkatan penduduk. Banyak sekali bangunan dan barang rumah tangga yang menggunakan bahan baku dari kayu sehingga kebutuhan akan kayu kian terus meningkat dan bisa menjadi salah satu bahan ekspor. Untuk menjual kayu juga sangat mudah karena para pengusaha bangunan dan wirausaha mebel sudah siap untuk menampung kayu dan mengolahnya menjadi bahan baku yang siap digunakan untuk kebutuhan manusia.

Lihat Juga : Mengenal Alur Industri Perkayuan

Banyak sekali jenis kayu yang bisa dijadikan pilihan untuk investasi jangka panjang dengan berbagai kelemahan dan kelebihan dari budidaya kayu tersebut. Hampir semua jenis kayu bisa dibudidayakan di tanah Indonesia sehingga jika mau memanfaatkan lahan untuk penanaman kayu, memang merupakan pilihan yang tepat untuk masa depan. Jika ingin sukses dalam usaha budidaya kayu, maka harus bisa menentukan jenis kayu yang akan ditanam.

Pertimbangan Ekonomi Didalam Budidaya Perkayuan di Indonesia

Jika dalam menekuni usaha budidaya kayu hanya memikirkan untung yang besar, maka dalam perjalanan penanaman kayu bisa jadi kurang maksimal. Hal ini karena keputusan untuk memilih jenis kayu tidak otentik dan berdasarkan pertimbangan keuntungan semata. Untuk bisa sukses dalam usaha budidaya kayu, tentunya harus memiliki pengetahuan. Hal tersebut berkaitan dengan luas lahan dan jenis kayu yang cocok ditanam pada tanah yang akan dijadikan sebagai media tanam.

Hal ini karena tekstur tanah juga sangat mempengaruhi pada pertumbuhan tanaman agar bisa berkembang lebih cepat dan sehat. Selain itu, suhu dan kondisi cuaca juga harus menjadi pertimbangan agar tanaman bisa tumbuh dengan cepat dan tidak mudah mati. Masih banyak hal-hal lainnya yang perlu dikuasai dalam menekuni usaha budidaya kayu, seperti jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya.

Pada bisnis budidaya perkayuan, kebanyakan investor hanya fokus pada turn back yang dapat dihasilkan oleh batang kayu-nya saja. Padahal selain menghasilkan kayu, hutan secara umum juga memberikan benefit yang lain. Dengan penanaman pohon pada suatu lahan tidak hanya dapat merestrukturisasi ekosistem. Namun hal ini juga dapat memberikan keuntungan dengan cara alternatif sebagai berikut:

Membuat Penelitian

Meskipun wilayah Indonesia secara umum dikategorikan beriklim tropis, namun setiap daerah memiliki karakteristik cuaca tersendiri. Baik curah hujan, temperatur umum, komposisi tanah hingga ketinggiannya dari permukaan laut. Karakteristik ini menciptakan kemajemukan ekosistem dan output dari hasil bumi masing-masing daerah di Indonesia termasuk pepohonannya. Banyak contoh yang dapat diambil misalnya; saat ini pohon Jati banyak dibudidayakan diberbagai wilayah di Indonesia, namun demikian kayu Jati yang berasal dari Jawa Timur dan Tengah masih di anggap penghasil kayu Jati terbaik. Kayu Ulin yang dapat tumbuh dengan baik di daerah kalimantan, kayu Eboni yang dihasilkan sulawesi dan sebagainya.

Berbagai pengaruh yang dihasilkan oleh masing-masing wilayah pada pertanian, perkebunan dan ekosistem ini dapat dijadikan sebagai materi bagi para peneliti. Penelitian ini dapat dilakukan oleh pemilik lahan tersebut, siswa dan mahasiswa hingga peneliti profesional yang pendanaannya dapat diajukan pada institusi-institusi penyedia dana riset. Riset sederhana sekalipun yang didokumentasikan dan dipublikasikan walaupun hanya via blog dan tempat publikasi lainnya di internet juga dapat memberikan stimulus pada pemasaran bahkan sebelum dilakukannya panen.

Jika kegiatan penelitian dirasa cukup sulit dilakukan sendiri, pengelola dan investor lahan perkebunan dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga maupun institusi-institusi akademis yang ada disekitar wilayah perkebunannya. Saat ini hampir diseluruh wilayah Indonesia, institusi perguruan tinggi banyak yang memiliki jurusan pertanian maupun kehutanan.

Tumpang Sari

Kegiatan tumpang sari atau penanaman disela-sela pepohonan hutan produksi bukanlah hal yang baru bagi banyak pebisnis kayu. Namun demikian tidak sedikit para pemilik perkebunan yang tidak memanfaatkan lahannya secara maksimal dengan melakukan hal ini.

Pada budidaya perkayuan, antara masing-masing batang kayu pasti diterapkan jarak tanam. Jarak ini memberikan wilayah-wilayah kosong yang jika diakumulasikan cukup besar. Sehingga sangat disayangkan jika wilayah tersebut tidak dimanfaatkan. Misalnya pada perkebunan kayu Jati dapat di tanami Temulawak, Kunyit Putih, Kunyit dan Jahe yang dapat dipanen dalam waktu yang lebih singkat. Cabe, Bawang, Kacang Panjang dapat ditanam disela-sela perkebunan pohon Sengon.

Kegiatan tumpang sari telah banyak dikenal diberbagai wilayah di Indonesia sebagai kegiatan yang memberikan keuntungan lebih maksimal pada perkebunan. Disamping dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih maksimal pada lahan, disisi yang lain juga dapat memberikan nutrisi yang lebih kaya pada tanahnya. Namun demikian perlu dicermati pula bahwa pemilihan tanaman yang digunakan pada kegiatan ini musti dipilih yang tidak memberikan efek yang buruk pada tanaman perkebunan utamanya.

Peternakan

Peternakan Disela KebunSama halnya dengan tumpang sari, kegiatan peternakan di sela-sela perkebunan juga merupakan hal yang umum dilakukan oleh para pemilik perkebunan kayu di berbagai wilayah. Kegiatan ini juga telah banyak terbukti memberikan manfaat positif dalam investasi perkebunan. Namun sebagaimana halnya kegiatan tumpang sari pula, kegiatan ini juga terkadang abai dipikirkan oleh para investor perkebunan.

Area-area kosong pada perkebunan merupakan area yang cukup luas dibandingkan dengan area yang ada pada perkebunan. Kegiatan peternakan dapat dijadikan alternatif ekonomi yang baik pada usia tertentu diwilayah perkebunan. Penentuan umur perkebunan merupakan keputusan yang krusial agar tidak mengganggu pertumbuhan batang pohon pada perkebunan tersebut. Selain itu pemilihan peternakan yang tepat juga penting karena beberapa peternakan justru dapat menjadi hama atau pengundang hama pada habitat disekitarnya.

Beberapa kegiatan peternakanpun dapat diselaraskan dengan kegiatan tumpang sari yang dilakukan oleh pemilik lahan. Sehingga penelitian yang pada alternatif awal pembahasan ini juga menjadi kegiatan yang perlu dilakukan untuk memberikan input kesimpulan jenis peternakan yang dapat dilakukan. Beberapa peternakan yang bahkan dapat dilakukan bahkan dapat dilakukan sejak masa-masa awal pengembangan wilayah perkebunan cukup banyak. Peternakan yang dimaksud seperti peternakan lebah atau peternakan perairan air tawar seperti belut, lele dan ikan-ikan air tawar lainnya.

Pengembangan Pariwisata

Wilayah perkebunan, pertanian dan peternakan kini semakin banyak yang sekaligus telah dijadikan pula sebagai tempat pariwisata, terutama wisata edukasi. Belakangan jenis wisata ini semakin berkembang diberbagai wilayah di Nusantara. Tidak perlu diherankan karena institusi pendidikan formal yang dari dahulu banyak mengadakan karya wisata kini beralih ketempat-tempat yang disamping dapat menyediakan alternatif liburan, juga dapat menjadi laboratorium alam.

Tidak berbeda dengan wilayah perkebunan. Suasana perkebunan yang sejuk dan asri tidak kalah potensialnya dijadikan sebaga laboratorium tempat para wisatawan belajar sesuatu yang baru langsung dengan objeknya di alam. Apalagi jika diperkebunan tersebut tersedia berbagai macam komponen di dalamnya sehingga potensi wisata yang dihasilkan dapat menjadi lebih luas. Diversifikasi komponen ini dapat dicapai pula dengan menerapkan beberapa alternatif ekonomis yang dibahas disini.

Agar potensi wisata dapat berkembang diwilayah perkebunan memang perlu berbagai persiapan. Persiapan utama tentunya untuk mengantisipasi pengunjung yang datang, seperti area untuk parkir, istirahat serta program yang ditawarkan dalam karya wisata yang akan disodorkan pada pengunjung. Selain itu bekerjasama dengan pemerintah, ketersediaan jalur transportasi menuju area ini juga cukup krusial. Segala kegiatan ekonomi ini juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat disekitarnya. Contoh-contoh kegiatan pengelolaan perkebunan dan hutan sangat mudah kita cari contohnya di berbagai tempat. Saat ini wilayah-wilayah yang masih asri dan rimbun yang merupakan wilayah hutan alamilah yang dijadikan tempat wisata. Namun dengan berkebun kayu serta mengembangkan pariwisata didalamnya dapat menjadi salah satu kontribusi pebisnis pada alam, sambil mengembangkan potensi yang dihasilkannya.

Pengelolaan Sampah

Secara alami, sampah yang dihasilkan pohon seperti daun dan ranting dapat berubah menjadi kompos dan kembali menjadi tanah. Baik di area hutan ataupun perkebunan sampah-sampah alami banyak ditemui. Semakin banyak komposisi dari hutan atau perkebunan kayu semakin variatif pula jenis sampahnya. Sampah-sampah hasil produksi alami perkebunan ini juga dapat menghasilkan potensi ekonomi tertentu.

Potensi ekonomi tersebut mulai dari kompos hingga bioetanol yang dapat mendongkrak penghasilan sambil menunggu kayu yang dihasilkan dari perkebunan tersebut. Dengan kreativitas dan manajemen yang baik, berbagai limbah dari perkebunan dapat di olah menjadi potensi ekonomi yang baik. Misalnya saja sampah-sampah dedaunan kering, sampah-sampah ini baik dengan menggunakan teknologi sederhana maupun teknologi tinggi setelah dipilah, dicacah, dipadatkan dan dikeringkan dapat menjadi briket. Briket yang dihasilkan dapat digunakan baik untuk keperluan pribadi maupun keperluan industri. Beberapa jenis sampah tertentu dari hutan juga dapat dioleh kembali menjadi kompos atau pakan ternak yang bernilai ekonomi tinggi.

Berbagai penelitian juga dilakukan oleh akademisi dalam hal pemanfaatkan sampah alami ini. Dengan teknologi tertentu sampah-sampah tersebut bahkan dapat diubah menjadi bioetanol yang berpotensi jadi sumber pemasukan yang bahkan bisa lebih besar dibandingkan kayu yang dihasilkan kebon itu sendiri. Lihat hasil penelitian mahasiswa IPB tentang pemanfaatan sampah dari daun kering disini. Baik ranting, sisa tebangan, pohon, biji, daun dan sebagainya yang dihasilkan hutan juga dapat menghasilkan produk-produk akhir seperti produk kerajinan. Temukan potensi-potensi produk yang dapat dikembangkan bersama dengan desainer maupun para pengrajin yang telah berpengalaman.

Pengelolaan Sumber Air

Salah satu manfaat dari reboisasi adalah kembalinya kesuburan tanah akibat naiknya air tanah kepermukaan. Tidak pada semua jenis perkebunan atau pertanian dapat menyebabkan hal ini terjadi. Namun pada perkebunan kayu, kemungkinan perbaikan struktur tanah dan kadar air pada tanah lebih mungkin, karena ukuran akar dan daya tariknya dari waktu kewaktu semakin maksimal. Sumber air pun biasa dipelihara dengan cara meningkatkan penanaman disekitarnya.

Air dan pepohonan dapat saling menjaga, diwilayah-wilayah yang sumber airnya sudah banyak kualitas air semakin meningkat dengan adanya berbagai pepohonan disekitarnya. Sebaliknya pepohonan dapat tumbuh dengan baik dengan tersedianya air didalam tanah. Pengembalian fungsi hutan dan lahan dapat memberikan manfaat ini, dengan pola penanaman yang baik. Perkebunan kayu juga dapat meningkatkan ketersediaan air diareanya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Faktor Penentu Kesuksesan Budidaya Kayu

Luas lahan juga sangat menentukan berapa banyak tanaman yang bisa diaplikasikan. Hal ini dapat menjadi penentu berapa besar keuntungan yang akan diperoleh. Budidaya Karena budidaya ini memerlukan waktu sampai puluhan tahun. Maka harus bisa melakukan perawatan agar pertumbuhan tanaman atu pohon tidak terganggu sehingga akan lebih maksimal. Jika memiliki lahan yang tidak begitu luas, maka bisa mencoba menanam pohon sengon. Karena dalam masa 5 tahun sudah bisa merasakan hasilnya sebagai investasi dalam usaha budidaya kayu yang cepat.

Pemilihan bibit berkualitas juga akan sangat menentukan kemajuan dalam usaha budidaya kayu. Karena salah satu hal yang membuat pohon cepat tumbuh dan sehat yaitu dari bibit yang dipilih. Jika tidak memiliki lahan yang luas, maka bisa menyewa lahan orang lain. Selain itu juga bisa berkerjasama untuk bagi hasil dalam panen nantinya. Tentu saja banyak cara untuk menekuni usaha budidaya kayu bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk investasi jangka panjang tersebut.

One Comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: