Senjata Tradisional

Bedog Senjata Khas Jawa Barat

Berbicara perihal senjata tradisional, setiap daerah tentu memilikinya. Terlebih pada zaman dahulu dimana perang masih kerap terjadi. Sehingga senjata ini umumnya digunakan untuk melindungi diri dan berburu. Tak terkecuali di Jawa Barat, di sini terdapat berbagai macam senjata tradisional di antaranya, Kujang, Balincong, Patik, Bedog, Congkrang, Arit dan Sulimat. Tetapi yang  menjadi bahasan dalam artikel kali ini adalah senjata tradisional Bedog.

Menurut Ensiklopedi Sunda (Pustaka Jaya 2000) Bedog merupakan nama alat tajam dari besi baja, ada yang berupa pakakas (perkakas) dan ada yang berupa pakarang (senjata). Senjata ini, baik yang berupa pakakas maupun yang berupa senjata, dalam bahasa Indonesia disebut Golok atau Parang.

Senjata ini memiliki bentuk yang beragam, disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik yang berbeda-beda tiap daerah yang ada di Jawa Barat. Meskipun memiliki beragam bentuk, umumnya senjata ini memiliki bilah dengan panjang sekitar 30 cm-40cm. Ada juga yang berukuran lebih dari 40cm disebut Kolewang atau Gobang.

Beberapa jenis bentuk dan fungsi Bedog di antaranya:

  1. Bedog Gagaplok. Biasa digunakan untuk memotong dan menyabit rumput atau tanaman lain di Kebun
  2. Bedog/Golok Pameuncitan. Memiliki ukuran panjang sekitar 25 sampai 27 cm dan lebarnya kurang lebih 3 cm. Berasal dari kata peuncit yang dalam bahasa sunda berarti sembelih. Itu artinya senjata ini digunakan untuk menyembelih hewan.
  3. Bedog/Golok Pamoroan atau internasional survival Memiliki ukuran sekitar 40-50 cm dan lebarnya adalah 3,5 cm. Masyarakat Sunda biasanya menggunakan senjata ini untuk berburu.
  4. Bedog/Golok tani. Panjangnya sekitar 25-30cm dan memiliki lebar sekitar 4cm. Dilihat dari namanya berarti masyarakat sunda memakainya untuk kegiatan bertani dan berkebun.
  5. Bedog/Golok Pamugeulan. Panjangnya berkisar antara 23-24,5 cm dan memiliki lebar sekitar 6 cm. Karena bentuknya yang lumayan besar masyarakat sunda menggunakannya untuk kegiatan-kegiatan barat seperti menebang pohon.
  6. Bedog/Golok Sotogayot. Memiliki panjang 25-27 cm dan lebar 6 cm. Masyarakat sunda menggunakannya untuk memotong bambu atau pengerjaan material bambu.
  7. Bedog/Golok dapur. Golok ini memiliki ukuran 20 sampai 23 cm dan lebarnya sekitar 4 cm. Dilihat dari namanya, masyarakat Sunda menggunakannya untuk kegiatan dapur seperti masak-memasak dan memotong bahan bakar. Akan tetapi senjata ini berbeda dengan Bedog daging atau pameuncitan.
  8. Golok panguseupan. memiliki panjang kira-kira 17-20 cm dan lebarnya 3 cm. Nguseup yang merupakan bahasa sunda apabila diterjemahkan berarti Mancing, berarti golok ini dipakai untuk memancing di sungai atau di laut
  9. Golok/Bedog Cepot. Ukurannya berkisar antara 15-17 cm dan lebarnya diatas 9 cm. Meskipun memiliki bentuk yang indah, senjata ini sama halnya dengan Kapak, digunakan untuk membelah.

golok 2

Bagian-Bagian Bentuk Bedog

Bagian utama dari senjata tradisional ini adalah bilah. Bahan baku yang umum digunakan oleh pengrajin di Jawa Barat adalah lempengan per bekas mobil. Mengapa demikian? Karena relatif mudah didapatkan di tempat penjualan besi bekas. Per mobil bekas digunakan selain karena lebih murah dari bahan baku yang baru, juga karena bahannya campuran dari besi dan baja yang cocok untuk senjata ini.

Bilah Golok dimulai dari  bagian ekor pada pangkal bilah yang dimasukkan pada pegangan Golok. Badan bilah terdiri dari perut, yaitu bagian sisi yang tajam. Sedangkan bagian yang tumpul dinamakan punggung. Ujung bilah golok disebut dengan congo.

Punggung bilahnya ada yang lurus ada pula yang berpunggung melengkung atau dalam istilah sunda bentik.

Senjata ini umumnya memiliki bentuk gagang yang melengkung dan memiliki ujungnya berbentuk bulat. Bentuk pegangan yang agak miring dan melengkung ini berfungsi agar dapat digenggam dengan kuat dan nyaman. Bentuk ujung gagang yang bulat berfungsi agar jari kelingking terkait dan menahan genggaman tangan agar tidak lepas tergelincir.

Gagang biasanya terbuat dari bahan kayu dan tanduk Kerbau, selain itu juga digunakan tanduk Rusa dan tulang hewan sesuai dengan permintaan.

Sarungnya disebut sarangka, berfungsi agar dapat dengan mudah dan aman untuk dibawa dan diselipkan dipinggang. Bentuknya mengikuti bentuk bilah, bila bentuk bilah melengkung maka bentuk gagang pun melengkung.

Seperti gagang, sarangka juga umumnya terbuat dari kayu. Adapula yang ditemukan terbuat dari kulit hewan, tetapi ini sangat jarang. Selain itu ada juga sarangka yang dilengkapi dengan aksesori tambahan berupa gelang-gelang pengikat yang terbuat dari tanduk kerbau.

Sumber: Budaya Sunda, Hidup Simpel, Tradisional.

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: