Bito Palape

Bito Palape merupakan senjata tajam yang terbuat dari kayu hitam dan digunakan untuk berperang serta sebagai pertahanan diri. Bentuk senjata tradisional ini seperti pedang dengan ujung yang runcing dan panjangnya sekitar 25 cm. Senjata kayu ini digunakan para raja dan bangsawan di kerajaan Wadda sebagai pemerintahan yang tertua di Gorontalo sekitar abad ke 14.

Senjata ini tidak memiliki sarung karena diletakkan dalam balok kayu sebagai tempat untuk menyimpannya. Tentu saja senjata ini hanya digunakan untuk keperluan tertentu saja dan tidak selalu dibawa seperti senjata tradisional lainnya. Jika dilihat secara kasat mata, bentuk pedang ini seperti ikan hiu dengan ujung sebagai kepalanya dan gagang senjata seperti ekornya.

Ketahanan Bito Palape

Pemilihan bahan menggunakan kayu hitam atau yang biasa disebut sebagai kayu eboni beberpa hal dan jenis pohon tersebut banyak tumbuh di daerah Gorontalo. Daya tahan kayu ini memang luar biasa karena bisa awet sampai 50 tahun tanpa mengalami keropos ataupun kerusakan lainnya. Maka tidak heran jika kayu hitam ini digunakan untuk pembuatan senjata Bito Palape bagi raja Wadda, Gorontalo.

Para raja menggunakan balok kayu sebagai wadah senjata ini agar selalu awet karena jika diletakkan pada tempat yang memiliki suhu tidak menentu, bisa mengurangi kualitasnya. Maka dipilih balok kayu karena merupakan benda yang bisa menyerap udara dingin dan panas. Tentu saja tingkat keawetan senjata kayu ini akan selalu terjaga dari efek kerusakan dan jamur ataupun serangan serangga.

Bentuk Bito Palape

Bentuk senjata Bito Palape memang menyerupai pedang kecil dengan tampilan elips dan semakin kecil sehingga sangat runcing pada ujungnya. Senjata ini juga sangat tipis dengan ukuran 4 mm. Sedangkan ukuran panjang keseluruhannya sekitar 32 cm yang terbagi pada bilah 25 cm dan gagangnya 7 cm. Untuk pegangan tangan memiliki panjang sekitar 3,5 cm dan dibawah pegangan tangan terdapat benjolan sebagai penguat tangan dengan ukuran sekitar 2 cm.

Untuk balok kayu yang dijadikan sebagai wadah berukuran panjang 45 cm dan dengan ketebalan kayu sekitar 2,5 cm. Bentuk balok kayu berupa elips sehingga lebar tengah dan ujungnya tidak sama. Untuk lebar tengah dengan ukuran 6,5 cm dan lebar ujung atas sekitar 4,7 cm dan lebar ujung bawah sekitar 5,2 cm. Sedangkan lubang atau cekungan untuk meletakkan senjata Bito Palape berukuran sekitar 1,5 cm.

Bito Palape Senjata Kaum Bangsawan

Tentu saja senjata ini memang kurang efektif untuk berperang di jaman sekarang, namun sekitar abad ke 14 merupakan senjata ampuh untuk membela diri bagi raja dan kaum bangsawan. Namun dibalik itu semua, ternyata ahli spiritual kerajaan Wadda di Gorontalo memiliki pengetahuan bahwa kayu hitam memiiki daya magis yang luar biasa karena bisa menolak sihir. Selain itu, kayu hitam juga dipercaya memiliki efek keberuntungan bagi siapa saja yang menggunakannya. Tentu saja hal ini memang sering terjadi pada kehidupan dimasa lalu dan kayu eboni merupakan sisa-sisa dari tumbuhan purbakala yang terkenal ampuh dan menjadi barang mewah.

Di zaman sekarang yang sudah memiliki teknologi canggih. Melalui penelitian ditemukan bahwa kayu hitam memiliki zat kimia yang mengandung anti virus dan bakteri. Khasiat zat kimia dalam kayu ini juga bisa dijadikan sebagai obat untuk penyakit. Seperti malaria dan tentunya memang sudah diteliti oleh tabib kerajaan masa lalu. Tentu saja tidak heran jika kayu hitam dijadikan pilihan sebagai senjata untuk raja dan keluarganya. Karena memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan maupun keberuntungan.