Senjata Tradisional

Senjata Gayang, “Benda Hidup” yang Harus Dijaga Tuannya

Berbicara tentang senjata tradisional suku Dayak, pasti erat kaitannya dengan Mandau. Ya, senjata yang satu ini memang sangat terkenal kekhasannya dan erat sekali dengan kehidupan masyarakat terutama pada saat berperang. Namun Mandau bukanlah satu-satunya senjata yang dimiliki suku dayak, seperti telah dibahas beberapa waktu lalu, ada senjata Sumpit dan Dohong. Nah, dalam artikel kali ini akan membahas senjata dari suku Dayak Kadazandusun.

Suku Dayak Kadazandusun ini memiliki senjata yang mirip dengan Mandau, Gayang namanya. Namun meskipun mirip tentu ada ciri yang bisa membedakan keduanya. Perbedaannya terletak pada design bilah dan sarung yang agak melengkung seperti Parang Ilang Dayak Iban. Dari segi ukuran senjata lebih panjang dari Mandau pada umumnya.

gayang2

Seperti halnya pembuatan senjata-senjata tradisional lainnya, Proses pembuatan senjata ini juga diwarnai dengan ritual-ritual tertentu. Ritual itu di mulai dari tempat membakar bilahnya (dompuran) yang dikenal dengan ritual Subak. Ritual ini mengunakan ayam jenis Komburak (ayam putih). Konon katanya jika dilakukan tanpa ritual, maka sang empu penempa bisa terkena tulah seperti ditulikan telinganya, dikaburkan matanya dan api pembakar mati sendiri. Sebelum melakukan kegiatan Dompuran juga terlebih dahulu ditaburi dengan garam dan dibacakan mantra agar kelak menjadi berbisa.

Lihat Juga: Senjata Tradisional Yang Beracun

Ketika pembuatan senjata ini sudah selesai, hal pertama yang dilakukan oleh penempa adalah mengorbankan seekor ayam jantan merah dan darahnya disimbahkan. Kemudian penempa membacakan rinait (pongoboh) sebagai tanda Gayang itu bukan lagi benda mati. Tetapi senjata ini benda hidup yang harus dijaga oleh tuannya. Penyembelihan ayam jantan itu sebagai tanda bahwa senjata tradisional ini nanti akan menjatuhkan setiap laki-laki yang perkasa, sebab simbol ayam jantan melambang kegagahan.

Konon katanya menurut orang tua dahulu, Gayang yang sudah disubak dan dikoboh akan menjadi seperti makhluk yang bernyawa, yang membutuhkan makan. Dan makanan senjata ini adalah darah dan otak manusia. Sehingga, setiap kali seorang pahlawan membunuh musuhnya, mereka akan mengambil otaknya dan memasukkan ke dalam satu lubang hulu Gayang dan juga di dalam sarung Gayang. Dengan demikian, semangat musuh akan tinggal dalam gayang tadi.

Menurut beberapa sumber di Mandar juga dikenal dua jenis Gayang. Yaitu Gayang Lekkong (Keris Luk) dan Sapukala (Keris yang bentuknya lurus). Mengenai kedua jenis Keris ini, ada yang menyebutkan bahwa Gayang Lekkong (Keris Luk) cocoknya untuk mereka yang memiliki rambut ikal atau keriting. Sedang Sapukala cocoknya untuk mereka yang berambut lurus.

Sumber: Folks of Dayak, Kaskus, GPS Wisata Indonesia.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: