Senjata Tradisional,  Spesialisasi

Parang Banten, Senjata Untuk Mempermudah Pekerjaan Petani Sawit

Parang merupakan senjata tradisional yang berbentuk pisau panjang menyerupai pedang. Namun ukurannya lebih pendek dari pedang dan lebih panjang dari Golok. Senjata ini umumnya digunakan oleh masyarakat Banten untuk kegiatan sehari-hari. Seperti alat untuk melindungi diri, bertani dan berkebun.

Bagi para petani Sawit, digunakan untuk membersihkan kebun sampai panen. Seperti yang kita ketahui bahwa daerah Banten memang banyak terdapat perkebunan Sawit. Sehingga para petani menggunakan Parang ini untuk mempermudah pekerjaannya.

Ukuran dan Bentuk

Dilihat dari segi ukuran dan bentuk, Parang untuk panen Sawit berbeda dari biasanya. Masyarakat Banten membuatnya dengan ukuran panjang sekitar 35 cm sampai 40 cm. Bentuk Parang sawit lebih sederhana. Ujungnya berbentuk lebar dan runcing pada bilah bagian depan sehingga mudah untuk mencungkil.

Sedangkan gagangnya terbuat dari kayu biasa. Bentuknya hampir sama seperti gagang Golok agar mudah dicengkeram dalam genggaman tangan. Proses pembuatan gagang ini biasanya memilih kayu yang kuat seperti kayu Waru dan lainnya. Untuk pembuatan sarungnya juga bisa menggunakan kayu Waru. Kayu tersebut dibelah kemudian disatukan dengan paku serta dikuatkan menggunakan cincin besi.

Parang Banten 2Bahan baku yang digunakan merupakan besi dan baja karbon yang agak lunak. Hal ini agar mudah ketika diasah. Sebelum digunakan biasanya diasah terlebih dahulu agar semakin tajam dan mudah dalam penggunaanya.

Proses pembuatan senjata ini biasanya dilakukan oleh beberapa orang. bisanya terdiri dari 3 sampai 5 pandai besi. Salah satu pandai besi akan memegangnya dengan catut besi ketika masih dalam keadaan panas berwarna merah. Para pandai besi lainnya akan memukul besi menggunakan palu agar bentuk besi semakin tipis merata. Setelah agak dingin, bahan besi akan dimasukkan lagi dalam api yang membara dan jika sudah panas akan ditempa lagi sampai menjadi bentuk parang.

Hal tersebut akan dilakukan berulang kali. Para  pemegang besi akan membolak-balikkan bahan tersebut sampai pada tingkat ketipisan yang diinginkan. Tidak semua bilah dibuat tajam dan pada tangkai yang mendekati gagangnya masih tebal serta tidak tajam sebagai penguat agar tidak mudah patah. Ukuran bagian yang tebal sekitar 5 sampai 7 cm dan bermanfaat agar parang tidak mudah lepas dari gagangnya. Kemudian proses finishing akan dilakukan oleh pandai besi yang ahli sehingga bentuk Parang bisa tajam.

Bahan yang digunakan untuk membuat Parang bisa berasal dari berbagai macam, ada yang terbuat dari per atau shockbeker, rantai dan ada juga yang mengambil dari gergaji bekas sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk menipiskannya.

Tingkat ketajamannya memang sangat tinggi. Sehingga tak heran jika masyarakat Banten memakainya untuk memotong bambu dalam sekali tebas. Selain itu, sangat mudah jika digunakan untuk membelah segala jenis kayu ataupun ketika memotong dahan pohon.

Penggunaan

Masyarakat Banten tidak hanya menggunakan parang sebagai alat pertanian dan perkebunan saja, namun juga biasa digunakan sebagai kebudayaan. Seringkali pada upacara perkawinan, pihak pengantin pria menyelipkan Parang di pinggangnya sebagai simbol keperkasaan dan kebijaksanaan. Selain itu, terdapat pula tarian adat yang menggunakan Parang pada upacara-upacara tertentu. Parang juga menjadi pelengkap pakaian adat masyarakat Banten dan sudah menjadi ciri khas penduduk di sebelah barat pulau Jawa tersebut.

Sumber : Budaya Jawa, Binasyifa.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: