Senjata Tradisional

Payan Senjata Warisan Kerajaan Tulang Bawang

Di tanah ini dahulu terdapat sebuah kerajaan bernama Tulang Bawang. Sebagai sebuah kerajaan tentunya memiliki senjata baik itu digunakan untuk berperang atau sebagai benda pusaka kerajaan. Ada beberapa peninggalan senjata tradisional di antaranya, Pedang, Keris, Badik dan Tombak (Payan).

Dalam artikel kali ini akan membahas senjata tradisional Payan. Menurut beberapa literatur senjata ini merupakan senjata tradisional Lampung yang usianya paling tua. Hal itu berdasarkan peninggalan arkeologis di situs purbakala Pugung Raharjo dan situs peninggalan Islam Benteng Sari menujukan bahwa senjata ini telah digunakan berabad-abad lamanya sebagai salah satu senjata bagi prajurit kerajaan Tulang Bawang.

Dikedua situs itu juga ditemukan lelehan kerak besi, logam dan wadah pelebur logam. Selain itu menurut beberapa sumber konon terdapat perbengkelan atau pande pembuatan senjata, termasuk pembuatan senjata tradisional ini.

Lihat Juga: Senjata Yang Masih Eksis Di Jawa Barat

Mereka juga percaya bahwa senjata ini memiliki makna keperkasaan, perjuangan, kekokohan dan ketajaman. Itulah mengapa senjata ini  juga menjadi ikon Kabupaten Lampung Utara.

Senjata Tradisional Lampung - Payan

Berdasarkan bentuknya senjata tradisional ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Payan Kejang yaitu senjata yang memiliki gagang terbuat dari kayu berukuran tidak lebih dari 150 cm, sedangkan mata tombaknya berukuran sama dengan jenis Payan Buntak yaitu mencapai 34-40 cm.

     2. Payan Buntak yaitu senjata yang gagangnya tidak lebih dari 90 cm. Jenis yang terakhir ini termasuk senjata yang langka, karena biasanya berkualitas sangat tinggi, terkadang diberi bulu ekor Kuda yang disebut tunggul.

Senjata ini dipercaya memiliki kekuatan magis, apalagi jika termasuk merupakan benda pusaka warisan dari leluhur. Biasanya jika seperti itu dilengkapi dengan warangka/sarung dan disimpan secara khusus. Sedang Payan yang tidak memiliki kekuatan magis, tidak dilengkapi dengan sarung.

Sumber:

Ririn, Adat Tradisional, Kamera Budaya, Kotak.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: