Senjata Tradisional,  Spesialisasi

Plintheng, Senjata Yang Berasal Dari Legenda Punakawan

Plintheng, awalnya merupakan senjata tradisional yang sangat efektif untuk berburu ataupun berperang. Mengapa demikian? Karena ketika berburu di dalam hutan menggunakan Plintheng tidak akan menimbulkan suara ribut. Sehingga kawanan binatang tidak akan ketakutan dan lari atau sembunyi. Itu artinya senjata unik iniĀ  sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Sejarah Plintheng

Di wilayah Jawa Tengah sendiri, Plintheng menjadi alat tradisional yang biasa digunakan oleh anak-anak. Sejarah mencatat senjata ini memiliki asal muasal yang unik. Kisah tersebut berawal dari legenda Punakawan yang sedang menjaga para Pandawa ketika melakukan pertapaan di sebuah Gunung. Saat itu, banyak sekali makhluk halus yang ingin mengganggu dan memakan Pandawa bersaudara yang memiliki kulit mulus.

Namun para Punakawan sebagai penjaga selalu bisa mengalahkan semua pengganggu hingga akhirnya datanglah raksasa yang sulit dikalahkan. Semar sebagai pemimpin dan bapak dari 3 Punakawan harus turun tangan untuk melawan raksasa tersebut dan merasa kewalahan ketika bertarung. Semar atau Ki Bodronoyo terdesak dan hampir kalah melawan sang raksasa sehingga harus meminta pertolongan kepada Sang Hyang Widi sebagai maha pencipta.

Pelontar

Akhirnya Semar mendapatkan wangsit bahwa untuk mengalahkan raksasa tersebut harus menggunakan sebuah batu besar. Namun Semar mengalami kesulitan untuk menggunakan batu tersebut hingga akhirnya dia memiliki inisiatif untuk melemparkannya dengan menggunakan sebuah senjata yang elastis. Akhirnya Ki Bodronoyo membuat sebuah alat pelontar tersebut dan bisa melemparkan batu besar hingga tepat sasaran kepada si raksasa yang kemudian kalah.

Senjata pelontar tersebut dinamakan dengan Plintheng dan menjadi alat yang efektif bagi masyarakat Jawa Tengah, terutama kota Wonogiri. Hal ini karena di kota Wonogiri terdapat sebuah tempat wisata yang bernama Plintheng Semar. Wisata ini sebagai lokasi yang menjadi saksi sejarah ketika sang Semar mengalahkan raksasa. Terdapat patung Semar yang berada diatas batu dan memegang sesuatu yang diyakini sebagai sebuah Plintheng dan di belakangnya terdapat batu besar yang pernah digunakannya untuk mengalahkan raksasa. Tentu saja legenda ini bisa saja sebuah kisah nyata atau sekedar dongeng sebelum tidur dan tentunya sejarah tersebut perlu digali kembali agar bisa terkuak misterinya.

Bentuk Plintheng

Plintheng yang digunakan masyarakat Jawa Tengah merupakan sebuah kayu buatan ataupun tangkai pohon yang berbentuk seperti huruf Y. Pada kedua ujung atasnya diberikan karet pentil ban sepeda yang diikatkan dengan kuat. Sedangkan pada kedua ujung karet pentil lainnya diikatkan sebuah potongan kulit binatang yang berukuran sekitar 5 x 10cm persegi. Kulit binatang tersebut sebagai tempat untuk meletakkan peluru yang terbuat dari batu atau tanah liat yang dikeraskan.

Selanjutnya kedua tangan akan bekerja untuk melemparkan peluru tersebut agar melesat dengan keras dan bisa mengenai sasaran meskipun jaraknya jauh. Cara menggunakan Plintheng yaitu tangan kanan memegang kayu bagian bawah dan tangan kiri akan menarik kulit binatang yang telah diisi peluru serta melepaskannya ketika sudah yakin dengan sasaran yang dituju. Tentu saja peluru akan melesat dengan kencang dan bisa mencapai sasaran yang memiliki jarak sampai ratusan meter.

Manfaat Plintheng

Biasanya masyarakat Jawa Tengah memanfaatkan Plintheng untuk menembak burung yang ada diatas pohon yang tinggi sekalipun. Burung yang terkena lemparan peluru dari Plintheng bisa tewas dengan seketika dan ada pula yang masih hidup. Hal ini tergantung dari bagian tubuh yang kena dan juga jauhnya jarak tembak antara penembak dan sasaran. Namun biasanya jika menggunakan peluru dari tanah liat, maka burung masih bisa bertahan hidup dan jika peluru dari batu akan langsung tewas seketika.

Bahan kayu yang digunakan memang bebas sesuai dengan selera dan kebanyakan anak-anak kecil membuat Plintheng menggunakan dari kayu jambu biji. Alasannya karena pohon jambu biji memang sangat kuat dan tidak mudah retak atau patah jika digunakan untuk Plintheng. Proses pembuatannya bisa dilakukan dengan cara manual yaitu dibuat seperti bentuk garputala dengan menggunakan pisau dan gergaji serta amplas untuk menghaluskannya.

Cara lainnya juga bisa menggunakan metode yang praktis yaitu mencari tangkai pohon yang simetris berbentuk huruf Y dan langsung jadi tanpa harus melakukan pengukiran ataupun hal lainnya. Selanjutnya memilih karet yang kuat dan tepat untuk digunakan sebagai pelontar peluru. Ada beberapa orang yang menggunakan karet penthil ban sebagai alat pelontarnya. Selain itu, ada juga yang menggunakan ban dalam bekas yang dipotong kecil dan panjang yang sejajar untuk digunakan sebagai pelontarnya. Kemudian memilih kulit binatang asli atau imitasi sebagai tempat untuk meletakkan peluru dan plintheng sudah jadi dan bisa digunakan.

Sumber : Lecturer.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: