Senjata Tradisional,  Spesialisasi

Proses Pengeringan dan Pengawetan Kayu

Proses pengeringan dan pengawetan kayu memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan kayu berkualitas dan bisa bertahan lama tanpa mengalami kerusakan ataupun keropos.

Khusus untuk tujuan pengeringan yaitu agar sesuai dengan kadar air yang dibutuhkan. Sehingga kayu tidak lembab dan mudah terserang jamur. Sedangkan pengawetan dilakukan agar kayu bisa bertahan atau awet sampai puluhan tahun dan bahkan untuk kayu jati sampai 50 tahun.

Tentu saja proses pengeringan membutuhkan waktu yang sangat lama dan bisa sampai berbulan-bulan tergantung lokasi dan cuaca. Lokasi yang paling baik untuk tempat pengeringan kayu yaitu berada di lereng ataupun dataran rendah. Didukung dengan lingkungan yang banyak mendapatkan sinar matahari dan hembusan udara. Selain itu, pemilihan tempat untuk pengeringan membutuhkan lahan yang luas dan terbebas dari padang rumput atau tanaman hijau lainnya.

Hal ini karena kayu membutuhkan tanah dengan tingkat kelembapan yang rendah atau tanah kering sehingga proses pengeringan akan lebih cepat. Faktor lainnya yang perlu diperhatikan yaitu lokasi tanah untuk pengeringan kayu harus jauh dari sumber mata air. Pada intinya tanah yang lembab akan menjadi tempat terbaik bagi pertumbuhan bakteri dan serangga yang akan menyerang kayu sehingga menyebabkan kerusakan.

Lokasi tanah juga berbentuk miring sehingga air hujan akan segera mengalir dan tanah cepat menjadi kering kembali. Selain itu. lingkungan tanah sekitar sebaiknya dalam kondisi terbuka sehingga udara bisa berhembus dengan baik untuk mempercepat proses pengeringan. Tingkat sirkulasi udara yang besar juga akan membantu proses pengeringan agar lebih cepat karena mampu mengurangi kadar air dalam kayu.

pengeringan

Kondisi cuaca juga sangat berpengaruh pada cepat atau lambatnya proses pengeringan kayu yang tergantung dari sinar matahari, awan, hujan dan hembusan angin. Tentu saja jika sering terkena sinar matahari, maka kayu akan cepat kering. Namun jika cuaca sedang musim hujan, maka proses pengeringan kayu akan membutuhkan waktu yang sangat lama karena kondisi lingkungan sering mengalami kelembapan udara.

Posisi tumpukan kayu juga berpengaruh pada meratanya hasil pengeringan sehingga diperlukan penataan kayu yang membuat udara bisa masuk ke semua bagian kayu. Selain itu, terdapat cara pengeringan kayu menggunakan tungku dengan cara memanaskannya pada suhu tertentu. Tentu saja proses pengeringan buatan akan lebih cepat daripada meletakkan kayu di atas tanah atau melakukan pengeringan secara alami.

Kualitas kayu yang telah kering memang lebih mudah untuk dilakukan pengawetan agar usia kayu semakin bertambah. Proses pengawetan kayu memang tidak selalu dilakukan oleh karena hanya kayu tertentu saja yang perlu diawetkan. Kayu yang digunakan untuk bahan baku pembuatan furniture biasanya tidak diawetkan karena akan bersentuhan langsung dengan manusia. Selain itu, perabot yang digunakan untuk tempat makanan juga tidak perlu menggunakan pengawet.

Hal ini karena proses pengawet menggunakan bahan-bahan kimia sehingga sangat berbahaya jika kayu digunakan sebagai bahan yang mengalami kontak langsung dengan manusia. Biasanya kayu yang diawetkan karena akan digunakan sebagai material yang akan ditempatkan di luar ruangan, seperti untuk deck, atap rumah, jembatan dan lainnya yang berhubungan langsung dengan tanah. Kayu yang berada di luar ruangan akan menghadapi cuaca yang sangat ekstrem dan suhu berganti-ganti sehingga perlu diawetkan.

Cara melakukan pengawetan kayu bisa melalui pencelupan pada suhu panas ataupun dingin serta menggunakan teknologi vakum menggunakan bahan kimia. Selain itu, bisa juga melalui proses pemolesan menggunakan bahan kimia seperti borak, khemis dan lainnya.  Kayu yang telah diawetkan akan terhindar dari resiko serangan jamur, serangga dan bakteri yang bisa merusak kayu.

Sumber : VedcMalang.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: