Rudus Bengkulu Cojang Aceh
Senjata Tradisional

Rudus

Rudus ialah senjata tajam berupa pedang atau parang yang menjadi salah satu senjata tradisional dari Bengkulu. Rudus juga merupakan senjata tajam yang memiliki ukuran terbesar di Bengkulu. Senjata tradisional ini juga merupakan senjata tradisional dari Bengkulu yang di pengaruhi oleh kebudayaan masyarakat melayu. Dari banyak artikel tentang senjata ini sepertinya ada banyak kesalah pahaman soal visualisasinya. Gambar yang ditayangkan untuk memvisualisasi senjata ini menampilkan Badik atau Rambai Ayam. Berbeda dengan artikel-artikel dari dalam negeri justru saya menyimpulkan dari artikel luar bahwa gambar Rudus yang benar adalah yang saya tampilkan disini. Salah satu alasannya karena senjata ini ada didalam logo Bengkulu, dan dapat dicocokan dengan gambar yang ada pada artikel luar tersebut.

Rudus Sebagai Senjata tradisional

Senjata tradisional di pulau Sumatra khususnya Bengkulu memiliki pengaruh yang kuat dari suku Melayu. Rudus sendiri didaerah Bengkulu merupakan sebuah senjata tradisional yang menjadi simbol masyarakat Melayu di Sumatra. Bukan hanya di daerah Bengkulu, banyak daerah lainnya di Sumatra yang menjadikan senjata ini sebagai identitas dari kebudayaan mereka, seperti misalnya masyarakat Aceh dan masyarakat Melayu di Bengkulu. Selain daripada itu Rudus juga menjadi salah satu senjata yang berkembang pesat didaerah lainnya di luar pulau Sumatra seperti di daerah Banjar di Kalimantan Selatan.

Senjata dengan bentuk yang sangat mirip dengan senjata ini adalah Cojang atau Co Jang yang ada di Aceh. Salah satu yang di identifikasi sebagai senjata ini sebagaimana yang tertera pada feature image yang diatas. Senjata tersebut di inlay atau di tatah dengan emas yang menyebutkan identitas pemiliknya yaitu Muhammad Salih dari Terumon di Desa Payang. Senjata ini berasal dari tahun 1835. Sayangnya saya tidak mendapatkan informasi tentang siapa Muhammad Salih ini.

Rudus, Co Jang atau Cojang

Meskipun Museum of Art di Amerika yang menyimpan koleksi ini menyebutkan pedang ini berasal dari Kuala Berang, namun Terumon yang nyata tertatah pada bilah senjata tersebut justru mendekati nama kampung Trumon di Aceh Selatan. Namun demikian dari informasi tentang Kerajaan Trumon ini yang menyatakan bahwa pada tahun 1812-1835 Kerajaan ini dipimpin oleh Teuku Raja Bujang kemudian dilanjutkan oleh Teuku Raja Mak Areh yang berbeda dengan nama pemilik yang di tatah pada bilah senjata tersebut maka timbul pertanyaan siapakah sebenarnya Muhammad Salih ini. Desa Payang sendiri terdapat di daerah Bengkulu Selatan yang kini dikenal dengan Muara Payang.

Lihat Juga : Pisau Rambai Ayam Dari Bengkulu

Rudus dan Co Jang merupakan pedang khusus yang hanya ditemukan di Indonesia terutama Aceh dan Bengkulu sehingga menurut keterangan museum tersebut bisa jadi pedang ini dibuat di Aceh dan dihias di Malaysia.

Keterangan selanjutnya yang terdapat pada pedang tersebut adalah adanya tulisan Kaf-Ha-Ya-‘Ain-Shad yaitu pembukaan Surah Maryam hijrah pada 27 Jumaidil Akhir tahun 1251 atau 20 Oktober 1835. Bapak Muhammad Salih dari Kerajaan Terumon yang mentatah di desa Payang. La hawla wa-al-quwwata ila billah al-‘ala al-‘azim. wa-huwa al-Latif al-Khabir.

Sejarah Rudus

Mengingat masyarakat melayu di pulau Sumatra mayoritas memeluk agama Islam, hal ini tentunya di pengaruhi oleh periode agama islam di Indonesia sehingga banyak kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang satu sama lain. Di Bengkulu sendiri banyak sekali kerajaan-kerajaan dan kesultanan yang pada zaman dahulunya sangat Berjaya, seperti misalnya Kesultanan Sungai Serut, Pat Petulai, Gedung Agung, dan berbagai kerajaan lainnya.

Berbicara masalah kerjaan tentunya akan memiiki banyak prajurit kerajaan dan anggota kerajaan yang harus di lengkapi dengan senjata untuk perlindungan diri, baik untuk melawan musuh saat berperang ataupun hanya sekedar untuk menjadi simbol kehormatan. Oleh karena itu, berbagai kerajaan tersebut mulai untuk mengembangkan senjata tradisional mereka masing-masing, salah satunya yaitu Rudus, yang pada masa kerajaan digunakan untuk menjadi senjata perang melawan musuhnya. Selain digunakan sebagai senjata untuk berperang Rudus juga bisa digunakan dalam upacara adat setempat, salah satunya dalam upacara pengangkatan datuk kepala adat.

Lihat Juga : Pedeung Orang Aceh

Selain pada masa kerajaan, pada masa kolonial atau pada masa penjajahan pun. Senjata ini banyak digunakan oleh masyarakat setempat sebagai senjata tradisional yang digunakan untuk melawan para penjajah. Hal ini menjadi salah satu pemicu akan pengangkatan Rudus sebagai simbol kebangkitan masyarakat Melayu di Sumatra dalam melawan penindasan dari para penjajah. Oleh sebab itu banyak simbol-simbol seperti simbol provinsi yang menggunakan Rudus sebagai objek utama dari simbol tersebut. Seperti misalnya simbol dari provinsi Bengkulu, yang mana menggunakan senjata ini sebagai lambang dari provinsi-nya. Bentuk dari lambang provinsi Bengkulu ialah terdapat dua buah pedang Rudus. Senjata ini sendiri memiliki arti sebagai senjata tradisional yang melambangkan kepahlawanan.

Bentuk Rudus

Rudus adalah salah satu senjata yang cukup cantik dari segi bentuk. Baik dari segi proporsi, ergonomi maupun pemilihan material. Selain itu ornamen-ornamen pada senjata ini juga unik dan cukup authentic dibandingkan dengan pedang-pedang dari tempat lain. Bentuk senjata ini sendiri pada umumnya, sama seperti pedang, atau golok atau parang. Memiliki beberapa elemen yang terdisi dari mata pisau, hulu atau gagang, dan sarungnya. Pada bagian dari rudus memiliki beberapa tulisan yang biasa di tulis dengan huruf Jawi, khususnya di bagian hulu dari Rudus.

Abjad Jawi sendiri merupakan huruf Persia- arab yang menjadi abjad resmi bagi suku melayu seperti di Negara di Brunei Darusallam. Tulisan yang terdapat di bagian senjata ini biasanya, bisa berupa tanggal pembuatannya, tempat pembuatannya atau hal semacamnya. Namun beberapa hal kadang sang pembuat pedang tersebut menuliskan tanggal pembuatan senjata ini selesai di ukir kembali. Bukan tanggal dari selesainya pembuatan Rudus. Namun hal semacam ini, tergantung dari pada si pembuat senjata itu sendiri, jadi sangat tidak mengikat.

Tulisan yang terdapat pada rudus biasanya di tulis di bagian mata pisau atau hulunya. Masyarakat setempat biasanya membawa rudus dengan cara di ikatkan pada pinggangnya.

Dimensi Rudus & Co Jang

Keterangan ini merupakan keterangan yang di ambil dari Metropolitan Museum of Art Amerika tentang Rudus atau Co Jang.

Panjang dengan sarung : 84.1 cm

Panjang tanpa sarung : 79.4 cm

Lebar 13.5

Berat dengan sarung 683.2 gram

Berat tanpa sarung 354.4 gram

Material Rudus & Co Jang

Bagan baku rudus sendiri sama halnya seperti bahan baku untuk pembuatan golok atau pedang pada umumnya. Material dasarnya besi untuk mata pisaunya, dan kayu untuk gagang atau hulu beserta sarungnya. Senjata ini tidak jarang diberikan ornamen pada bilahnya dengan emas. Penempatan emas pada bilah yang terbuat dari besi tempa membutuhkan skill yang unik karena perbedaan titik didih masing-masing material. Sehingga pembuatan senjata ini juga meninggalkan banyak tanda tanya terutama bagaimana teknik tersebut kini mulai lenyap ditempat asalnya.

Khususnya Rudus atau Co Jang yang terdapat pada feature image dibuat dengan kombinasi material Besi, Tanduk, Emas dan Kayu.

Sumber: Wikipedia, Metropolitan Museum of Art US, Sultans In Indonesia,

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: