Tulup, Senjata Khas NTB

Tulup adalah salah satu senjata tradisional berburu suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Senjata ini terbuat dari kayu Meranti yang dilubangi, berpeluru potongan-potongan seperti lidi dari pelapah pohon Enau yang berbentuk seperti mata panah yang disebut ancar. Mata ancar biasanya diolesi racun dari getah pohon Tatar.

Lazimnya masyarakat Indonesia mengenal senjata ini sebagai alat yang terbuat dari bambu yang memiliki ros (batasan pada bagian Bambu) atau kayu yang dilubangi. Dalam KBBI Tulup adalah Sumpit dan tiup. Artian ini merujuk pada bentuk dan cara menggunakan senjata ini. Penggunaannya dengan cara ditiup melalui mulut.

Lihat juga Tulup dalam bentuk 3D

Menurut sejarah, Senjata tradisional ini sudah dikenal akrab dalam kebudayaan suku-suku yang banyak mendiami daerah pedalaman Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Nusa Tenggara. Biasanya mereka menggunakannya untuk membunuh binatang buruan seperti babi, kera, macan atau gajah.

Masyarakat suku Sasak menggunakan senjata ini untuk berburu babi dan kera yang banyak berkeliaran di hutan-hutan Lombok.  Para pemburu beranggapan bahwa selain untuk berburu, Tulup juga dianggap sebagai benda sakral. Hal tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa berburu sebagai mata pencaharian mereka sedangkan Tulup adalah alat mereka mencari rezeki untuk itu perlu dihargai dan dihormati.

Senjata ini mempunyai tiga komponen penting yaitu, gagang Tulup, Ancar (peluru Tulup), dan terontong (tempat menyimpan ancar). Agar binatang cepat mati, biasanya pada ancar dioleskan racun yang berasal dari getah pohon Tatar. Getah ini sangat manjur untuk membunuh binatang. Ketiga komponen tersebut harus dibawa karena ketiganya saling melengkapi.

Material untuk membuat Tulip di antaranya:

  1. Kayu meranti untuk membuat gagang
  2. Pelepah pohon Enau (Pinang atau Aren) untuk membuat batang dan mata ancar (peluru)
  3. Getah pohon Tatar untuk membuat racun
  4. Bambu untuk membuat terontong (tempat menyimpan ancar)

Alat-alat untuk membuat Tulup

  1. Kapak untuk memotong kayu
  2. Pusut (seperti bor) untuk membuat lubang
  3. Maja atau pangot (pisau) untuk menghaluskan.

senjata ini memiliki tiga komponen penting, yaitu gagang, ancar (peluru), racun dan terontong (tempat menyimpan ancar). Dalam

Proses pembuatan ancar dan terontong dapat dikatakan cukup rumit dan memerlukan ketelitian serta keterampilan yang terlatih.

Sumber: Melayu Online, Tradisi Tradisional, Ilmu, Budaya Indonesia.